Sarana Belajar

"Hari Pendidikan Nasional 2016 ""

Vinaora Visitors Counter

038189
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
91
105
785
36629
2493
3703
38189

Sarana Belajar 54.196.31.153
2016-07-24 14:37

Space Iklan

 

www.primaindisoft.com

Untuk Memasang Iklan

di halaman Web ini silakan

Hub : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Home

Written by Adrian A. Odja
Published: Tuesday, 17 November 2015 16:10

Pengertian Logika adalah suatu upaya berpikir secara cermat dan tepat mengenai berbagai argumen yang hendak dikemukakan seseorang. Logika juga dapat digunakan untuk menganalisis atau menguji argumen (argumen) orang lain. Tujuan atau sasaran logika adalah sebisa mungkin menempatkan cara berpikir seseorang ke dalam sebuah struktur formal yang dinamakan argumen. Dengan pertolongan dan didasarkan pada logika, maka seseorang dapat menilai apakah argumen orang lain (bahkan dirinya sendiri) termasuk ke dalam kategori argumen yang baik atau argumen yang tidak baik. Dalam pengertian tertentu, logika seperti matematika. Dalam perhitungan matematika dan logika adalah hal yang mungkin bagi seseorang untuk membuktikan ketepatan suatu hal secara 100%, namun tidak demikian halnya dalam bidang sains. Secara sederhana saya berpendapat bahwa matematika dan logika memiliki dasar yang sama, yakni sebuah struktur yang ditemukan, dipilih, dan digunakan manusia sebagai dasar bersama. Contoh sangat sederhana mengenai matematika dan logika adalah, jika saya menyebut "3", ini berarti pada saat bersamaan saya tidak bermaksud menyebut "4". Dan "3" ini disepakati oleh manusia lainnya bukan sebagai "4". Sangat sederhana, bukan! Berikut ini adalah tiga aturan dasar logika yang disepakati oleh manusia: 1. Hukum Identitas: a sama dengan a pada saat dan cara yang sama. Dengan demikian, Sokrates adalah Sokrates. 2. Hukum Non-Kontradiksi: Jika a benar, maka bukan a tidak dapat benar pada saat dan cara yang sama. Dengan demikian, jika pernyataan "Sokrates hidup" adalah benar, maka pernyataan "Sokrates tidak hidup" tidak dapat benar pada saat dan cara yang sama. 3. Hukum Menyingkirkan yang di Tengah: Salah satu, entah a atau bukan a harus benar. Tidak ada di antaranya. Jika pernyataan "Sokrates tidak hidup" adalah salah, maka pernyataan "Sokrates hidup" haruslah benar. Setelah melihat tiga aturan dasar logika di atas mungkin ada orang yang berkomentar, "ah, terlalu sederhana!" atau "terlalu menyederhanakan logika" atau "tiga aturan dasar logika di atas dikatakan benar hanya bergantung maksud setiap orang ketika menggunakan kata-kata tersebut". Artinya, setiap orang memiliki definisi tertentu mengenai kata-kata yang digunakannya. Untuk menanggapi tanggapan-tanggapan di atas, maka untuk no. (1) dan (2) sesungguhnya tiga aturan dasar logika yang diungkapkan di atas tidaklah menyederhanakan apalagi meremehkan logika. Sebaliknya, tiga dasar logika tersebut sengaja ditampilkan secara sederhana agar setiap orang mampu memahami cara kerja logika tanpa ketakutan akibat telah menganggapnya seperti perhitungan matematika (seperti saya ungkapkan di atas bahwa cara kerja dasar logika sangat mirip dengan matematika). Untuk menanggapi komentar no. (3), jika seseorang tidak setuju dengan cara kerja salah satu dari ketiga aturan dasar logika di atas, maka sesungguhnya yang terjadi bahwa ia menggunakan kata-kata yang sama tetapi dalam cara yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya. Seperti telah diungkapkan di atas bahwa tujuan dan sasaran logika adalah sebisa mungkin menempatkan cara berpikir seseorang ke dalam sebuah struktur formal yang dinamakan argumen. Dengan bantuan dan berdasarkan logika-lah maka seseorang dapat menilai apakah argumen orang lain (bahkan dirinya sendiri) merupakan argumen yang baik atau argumen yang tidak baik. Apakah yang dimaksud dengan argumen? Di tulisan berikutnya akan dibahas mengenai argumen. Sumber http://www.kompasiana.com/yani/logika_54ff04c3a33311164d50f998

 

Anda Masalah dengan Jerawat?

Written by Super User
Published: Monday, 23 November 2015 06:49

Scratch adalah bahasa pemrograman dan komunitas online di mana anak-anak dapat memprogram dan berbagi media interaktif seperti cerita , games , dan animasi dengan orang-orang dari seluruh dunia . Sebagai anak-anak berkreasi dengan Scratch , mereka belajar untuk berpikir kreatif , bekerja sama , dan alasan sistematis . Scratch dirancang dan dipelihara oleh kelompok TK Lifelong di MIT Media Lab  dan dapat diakses online melalui website https://scratch.mit.edu

Langkah pertama untuk mempelajari :

  1. Pada halam pertama web https://scratch.mit.edu pilih Coba
  2. Pelajari lembar kerja dari aplikasi Scratch seperti :
  • Tempat untuk menulis Project | Masukan dengan nama Project anda, contoh : Coba1
  •  Block  Palette: tempat untuk memprogram  Sprite. 
  • Script Area: Daerah untuk membuat skrip (naskah).
  • Stage: tempat  untuk menampilkan  Scratch
  • Sprite  list: daftar sprite yang  muncul dalam  Stage

     5. Mulailah kita belajar Scratch. (Modul Pelatihan 01)

     6. Pada ini kita belajar bagaimana caranya kita anak menggerakan gambar kucing pada Stage dengan menyususn beberapa perintah. Cara ini dapat

        disebut sebagai belajar logika programing. Cara pertama adalah :

  • Pada Block Palatte, geser perintah Gerak 10 langkah, ke Script Are
  • Berikan perintah  Katakan Hello selama 2 detik
  • Dan berikan juga perintah Mainkan Suara Meow...
  • Untuk mencoba program kita, silakan double click pada list program kita

      5. Selamat mencoba dan akan kita lanjutkan ke Modul Pelatihan 02. 

 

 Informasi dan diskusi tentang pembelajaran logika dapat berikan ke e-mail saranabelajar at outlook.co.id

Masalah Dengan Jerawar ?

Written by Adrian Odja
Published: Friday, 13 November 2015 17:27

Materi tematik merupakan sebuah perubahan sistem pendidikan kita. Anak diajarkan materi yang sama untuk semua mata pelajaran. Cara ini seharusnya lebih efektif dan maksimal dalam proses belajar mengajar di kelas karena siswa sudah terbiasa dengan pembahasan dari materi sebelumnya. Sistem ini sudah kita mulai ajarkan di kelas TK dan SD khususnya dalam kurikulum baru kita.

Pemerintah dalam pengembangan kurikulum baru yang segera akan direvisi akhir tahun ini berjanji tidak akan banyak merubah kurikulum yang baru. Apakah pembelajaran tematik akan tetap menjadi sistem baru dalam dunia pendidikan kita?

Unttuk TK dan PAUD materi tematik lebih mudah dijalankan karena mata pelaran pada TK tidak sebanyak pada kelas SD. Ada beberapa Aplikasi atau program berbasis komputer yang ditawarka perusahaan pembuat aplikasi untuk materi tematik ini sehingga sekolah dan guru selain menggunakan buku panduan guru juga mempunyai media pembelajaran tambahan. berikut beberapa situs penyedia media belajar tematik untuk sekolah-sekolah atau anak-anak kita dalam bentuk Media Belajar Digital atau Tutorial atau juga dalam bentuk comic. http://www.primaindisoft.com

 

 

Written by Adrian A. Odja
Published: Wednesday, 11 November 2015 00:00

Anak Usia Dini TIDAK ADA salahnya kitd kenalkan DENGAN Pengetahuan Logika Kepada mereka, Di India Pelajaran Mengenai Logika Sudah diperkenalkan Saat mereka Masih dibangku SD. Pelajaran Yang dimaksud Adalah Pelajaran TENTANG Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Hijau Yang mengajarkan Anak-anak untuk review DAPAT mengembangkan Logika Berpikir SECARA Benar Yang arahkan PADA Logika berfikir ATAU flow chart PADA Ilmu Komputer. 

Kita Seharusnya DAPAT terapkan dilingkungan Kecil kitd. Mulai dari rumah Dan sekolah. Selain nalar Logika Yang kitd masukkan hearts Pelajaran-Pelajaran sekolah melalui Pertanyaan Yang Membutuhkan jawaban Anak SECARA Logika, permaian-Permainan Logika Bisa kitd berikan Kepada mereka di rumah. Permainan Tradisional seperti congklak, Dam-dam batu, Catur, Catur Jawa Semuanya Adalah contoh Permainan Yang memerlukan Logika. Disinilah Peran kitd SEBAGAI orangutan tua mengajarkan mereka untuk review berfikir SECARA Logika, seperti Saat memindahkan SEBUAH Pion PADA Permainan catur Kita Harus menjelaskan tujuan kitd memindahkan pion tersebut Dan bagaimana jika Lawan merespon Anak Pion kitd, apakah Lawan menanggapi DENGAN Serangan ATAU dianggap SEBAGAI SAR Pembuatan ?.

PADA Pelajaran dilingkunan rumah Masih Banyak Yang Kita Bisa belajar Bersama DENGAN Anak Kita, APA yabg kitd ketahui TENTANG Suatu HAL DAPAT kitd bgikan Kepada mereka, tentunya Sesuai Umur mereka, seperti SECARA grafitasi Benda ATAU udara DAPAT berpindah Dari Suatu Tempat Yang Tinggi KE Tempat Yang Rendah , GETAR permaian Dan sebagainya.

PADA Pelajaran Komputer di sekolah materi TENTANG Logika Suami Harusnya kitd tanamkan SEBELUM mereka mempelajari ilmu Komputer LEBIH JAUH. kitd ajarkan TENTANG Cara kerja Komputer, Peralatan Yang menghasilkan Logika berfikir PADA Komputer, sehingga Anak-anak Indonesia Bukan Sekedar pengguna biasa hearts Dunia IT Suami, namun mereka kitd letakkan dasar dasar KUAT untuk review DAPAT merancang Sistem ATAU Aplikasi. Mungkin sederhana kitd Melihat hal SEBUAH Aplikasi Kalkulator 1 + 1 = 2. Pernahkah kitd berfikir bagaimana Cara membuatnya?

Anak SD, Mulai kitd latih Logika berfikir mereka DENGAN merancang Sistem sederhana, kitd Mulai DENGAN Pelajaran sederhana PADA Microsoft Excel, Dimana sel-sel Tertentu kitd masukan rumus Dan sel berbaring hasilnya sehingga Anak-anak memasukkan Angka penjumlahan Maka hasilnya Langsung terlihat. Pasti Anak-Anak Senang Dan tertangtang untuk review MEMBUAT Aplikasi lain.

Adapun program yang beberapa Yang DAPAT mendukung latihan Logika Anak Adalah belajar Program secadrag dan drop. beberapa Aplikasi Jumlah: Tersedia Bebas di internet. seperti scrath, Alice Dan sebagainya.

Mari kita memajukan Pendidikan Indonesia Bersama-sama, mari kita berdiskusi.

 

 

Written by Adrian A. Odja
Published: Thursday, 24 December 2015 08:50

Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu:

  1. Kecerdasan linguistik/verbal/bahasa,
  2. Kecerdasan matematis logis,
  3. Kecerdasan visual/ruang/spasial,
  4. Kecerdasan musikal/ritmis,
  5. Kecerdasan kinestetik jasmani,
  6. Kecerdasan interpersonal,
  7. Kecerdasan intrapersonal, dan
  8. Kecerdasan naturalis.

Tugas kita orang tua dan pendidik adalah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. dalam faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (un) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak. Tetapi, dalam kenyataan yang dihadapi saat ini, masih terdapat anak yang belum dibekali kemampuan untuk berprestasi cemerlang di bidang matematika. seolah-olah mereka, dihadapkan pada dua hal yang dilematis, di satu sisi mereka “harus” menguasai matematika, di sisi lain ia merasa lemah untuk belajar matematika. mungkinkah hal ini, akibat dari sistem pendidikan kita yang salah? pola pengasuhan orangtua yang keliru? atau memang potensi matematisnya tidak dikembangkan sejak usia dini? atau “jangan-jangan” mereka tidak mau belajar karena merasa tidak butuh dengan matematika.

Hakikatnya, setiap individu itu dalam kehidupannya pasti membutuhkan matematika (meski tingkat sederhana, misal: jual beli). dan, pada prinsipnya setiap anak itu dikaruniai kemampuan matematis, yakni memiliki kemampuan mengenal angka sejak dini bahkan sebelum usia sekolah. anak usia pra-sekolah sudah mengerti tentang kuantitas, misalnya banyak dan sedikitnya benda, jumlah saudaranya, dll. sekarang, tinggal tugas orangtua dan pendidik lah untuk mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak. kecerdasan matematis memuncak pada masa remaja dan masa awal dewasa. beberapa kemampuan matematika tingkat tinggi akan menurun setelah usia 40 tahun. kecerdasan matematis logis dikategorikan sebagai kecerdasan akademik, karena dukungannya yang tinggi dalam keberhasilan studi seseorang. dalam tes iq, kecerdasan matematis logis sangat diutamakan. oleh karenanya, matematika menjadi “bermakna” dalam kehidupan individu manusia. nah, berpijak pada uraian singkat tersebut, kita menjadi maklum bahwa dalam setiap individu ternyata telah terdapat potensi kecerdasan matematis. oleh karenanya, tinggal bagaimana kita sebagai orangtua, guru, pendamping dapat mengembangkan kecerdasan tersebut sejak usia dini. harapannya, ketika tumbuh dewasa anak-anak tidak lagi kesulitan untuk mencari potensi matematisnya. dengan demikian, paud menjadi sarana efektif untuk menggali dan mengembangan kecerdasan matematis yang dimiliki anak. tentunya, dengan cara yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak. misalnya, menghitung jumlah kue, jumlah uang, memperlihatkan warna-warni baju, menghitung banyaknya kotak keramik, dll. dengan berusaha menggali dan mengembangkan kecerdasan matematis anak sejak usia dini, diharapkan ketika masuk jenjang pendidikan selanjutnya, anak tidak lagi merasa kesulitan untuk menerima materi pelajaran matematika. dari uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk menulis sebuah makalah dengan judul "pengaruh kecerdasan logika matematika dalam pendidikan anak usia dini".

Kerangka Berpikir Rendahnya mutu pendidikan masih disandang bangsa . Hal ini dapat diminimalkan dengan mengoptimalkan pendidikan pada anak sejak dini, terutama pendidikan matematika. Mengingat image masyarakat terhadap matematika yang menganggap pelajaran yang menakutkan. Padahal, matematika dapat diberikan kepada anak sejak usia 0+ tahun. Anak pada usia 0-6 tahun perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia inilah kesiapan mental dan emosional anak mulai dibentuk. Penelitian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menunjukkan bahwa mutu pendidikan dan keberhasilan akademis secara signifikan dipengaruhi oleh kualitas masukan pendidikan yaitu kesiapan mental dan emosional anak memasuki sekolah dasar. Anak mulai belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya sejak bayi. Hal ini dikarenakan pertumbuhan otak bayi dibentuk pada usia 0-6 tahun. Oleh sebab itu asupan nutrisi yang cukup juga harus diperhatikan. Para ahli neurologi meyakini sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia terjadi pada usia 4 tahun, 80% terjadi ketika usia 8 tahun, dan 100% ketika anak mencapai usia 8 - 18 tahun. Itulah sebabnya, mengapa masa anak-anak dinamakan masa keemasan. Sebab, setelah masa perkembangan ini lewat, berapapun kapabilitas kecerdasan yang dicapai oleh masing-masing individu, tidak akan meningkat lagi. Bagi yang memiliki anak, tentu tidak ingin melewatkan masa keemasan ini. Berdasarkan kajian neurologi dan psikologi perkembangan, kualitas anak usia dini disamping dipengaruhi oleh faktor bawaan juga dipengaruhi faktor kesehatan, gizi dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya. Maka faktor lingkungan harus direkayasa dengan mengupayakan semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi faktor bawaan tersebut bisa diperbaiki. Dalam tahun-tahun pertama kehidupan, otak anak berkembang sangat pesat dan menghasilkan bertrilyun-trilyun sambungan yang memuat berbagai kemampuan dan potensi. Nutrisi bagi perkembangan anak merupakan benang merah yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Setidaknya terdapat 6 aspek yang harus diperhatikan terkait dengan perkembangan anak antara lain:

  1. perkembangan fisik: hal ini terkait dengan perkembangan motorik dan fisik anak seperti berjalan dan kemampuan mengontrol pergerakan tubuh.
  2. perkembangan sensorik: berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan panca indra dalam mengumpulkan informasi.
  3. perkembangan komunikasi dan bahasa: terkait dengan kemampuan menangkap rangsangan visual dan suara serta meresponnya, terutama berhubungan dengan kemampuan berbahasa dan mengekspresikan pikiran dan perasaan.
  4. perkembangan kognitif: berkaitan dengan bagaimana anak berpikir dan bertindak.
  5. perkembangan emosional: berkaitan dengan kemampuan mengontrol perasaan dalam situasi dan kondisi tertentu.
  6. perkembangan sosial: berkaitan dengan kemampuan memahami identitas pribadi, relasi dengan orang lain, dan status dalam lingkungan sosial.

Orang tua juga dituntut untuk memahami fase-fase pertumbuhan anak.

  • Fase pertama,

mulai pada usia 0-1 tahun. Pada permulaan hidupnya, anak diusia ini merupakan suatu mahkluk yang tertutup dan egosentris. Ia mempunyai dunia sendiri yang berpusat pada dirinya sendiri. Dalam fase ini, anak mengalami pertumbuhan pada semua bagian tubuhnya. Ia mulai terlatih mengenal dunia sekitarnya dengan berbagai macam gerakan. Anak mulai dapat memegang dan menjangkau benda-benda disekitarnya. Ini berarti sudah mulai ada hubungan antara dirinya dan dunia luar yang terjadi pada pertengahan tahun pertama (6 bulan). Pada akhir fase ini terdapat dua hal yang penting yaitu: anak belajar berjalan dan mulai belajar berbicara.

  • Fase kedua, terjadi pada usia 2-4 tahun.

Anak semakin tertarik kepada dunia luar terutama dengan berbagai macam permainan dan bahasa. Dunia sekitarnya dipandang dan diberi corak menurut keadaan dan sifat-sifat dirinya. Disinilah mulai timbul kesadaran akan "Akunya". Anak berubah menjadi pemberontak dan semua harus tunduk kepada keinginannya.

  • Fase ketiga, terjadi pada usia 5-8 tahun.

Pada fase pertama dan kedua, anak masih bersifat sangat subjektif namun pada fase ketiga ini anak mulai dapat melihat sekelilingnya dengan lebih objektif. Semangat bermain berkembang menjadi semangat bekerja. Timbul kesadaran kerja dan rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya. Rasa sosial juga mulai tumbuh. Ini berarti dalam hubungan sosialnya anak sudah dapat tunduk pada ketentuan-ketentuan disekitarnya. Mereka mengingini ketentuan-ketentuan yang logis dan konkrit. Pandangan dan keinginan akan realitas mulai timbul. Untuk pendidikan matematika dapat diberikan pada anak usia 0+ tahun sambil bermain, karena waktu bermain anak akan mendapat kesempatan bereksplorasi, bereksperimen dan dengan bebas mengekspresikan dirinya. Dengan bermain, tanpa sengaja anak akan memahami konsep-konsep matematika tertentu dan melihat adanya hubungan antara satu benda dan yang lainnya. Anak juga sering menggunakan benda sebagai simbul yang akan membantunya dalam memahami konsep-konsep matematika yang lebih abstrak. Ketika bermain, anak lebih terstimulasi untuk kreatif dan gigih dalam mencari solusi jika dihadapkan atau menemukan masalah.

Pada pendidikan matematika dapat diberikan misalnya pada pengenalan bilangan, terlebih dahulu diperdengarkan angka dengan menyebutkan angka satu, dua, tiga dan seterusnya. Dan perlihatkan benda-benda berjumlah satu, dua, tiga dan seterusnya, bukan berarti materinya langsung mengenalkan lambang bilangan "dua" karena anak akan bingung. Dengan bertambahnya kecerdasan dan umur barulah diperkenalkan ke lambang bilangan.

Pengenalan geometri, anak diberikan berbagai macam bentuk bangun misalnya bola, kotak, persegi, lingkaran dan sebagainya. Dengan memerintahkan anak mengambil bangun yang disebutkan nama dan ciri-cirinya. Pengenalan penjumlahan dan pengurangan, pakailah bola berdiameter sama yang dapat digenggam.

Untuk pengurangan, sebanyak bola diambil satu, dua, ..., dan . Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, dua, ..., sampai empat pada bola yang tergenggam.

Mengingat ciri khas pada setiap jumlah bola yang sering dilihatnya, anak pun akan melihat kejanggalan ketika dikurangi atau ditambah. Peristiwa tersebut membuatnya semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai perubahan jumlah bola yang digenggamnya. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan warnanya beragam, pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi pada jumlah bola yang tampak. Pengenalan hubungan atau pengasosiasian antara benda, misalnya berikan kotak dan dilanjutkan dengan memperlihatkan benda yang berbentuk kotak lain seperti kotak susu, bungkus sabun dan sebagainya. Dibenak anak dapat menghubungkan antar kotak yang satu dengan yang lainnya. Sehingga pendidikan matematika dapat diberikan kepada anak usia dini dimulai dari pendidikan keluarga, yang dilakukan oleh orang tua sebagai guru terdekat sang anak.

Peran penting yang dapat dilakukan orang tua yaitu sebagai:

  1. Pengamat. Orang tua mengamati apa yang dilakukan oleh anak sehingga dapat mengikuti proses yang berlangsung. Ketika dibutuhkan, orang tua dapat memberikan dukungan dengan mengacungkan jempol, mengangguk tanda setuju, menyatakan rasa sukanya, bahkan ikut bermain.
  2. Manajer. Orang tua memperkaya ide anak dengan ikut mempersiapkan peralatan sampat tempat bermain. Ketiga, teman bermain. Orang tua ikut bermain dengan kedudukan sejajar dengan anak. Keempat, pemimpin (play leader). Dalam hal ini orang tua berperan menjadi teman bermain, sekaligus memberikan pengayaan dengan memperkenalkan cara serta tema baru dalam bermain. Pengaruh orang tua sebagai "guru" pada anak memiliki porsi terbesar dilingkungannya, sehingga orang tua dalam mendidik dapat beracuan: pertama, berorientasi pada anak (pupil centered). Dalam mengajar anak tidak dengan komunikasi satu arah dengan kata lain orang tua dinyatakan orang yang paling tahu dan paling pandai. Kedua, dinamis. Dalam mendidik anak bawalah mereka sambil bermain dan orang tua dapat memancing anak untuk memunculkan ide kreatif dan inovatifnya. Ketiga, demokratis. Ini berarti, memberikan kesempatan pada anak untuk menuangkan pikirannya dan bersikap tidak sok kuasa.